Jadi, ceritanya nih, Profesor Ellie Rennie, salah satu anggota penting di RMIT Blockchain Hub, bikin pernyataan mengejutkan di media sosial X (dulu Twitter) pada 22 November. Dia bilang, “Pusat ini ditutup.” Tapi, tunggu dulu! Gak lama setelah itu, suaminya yang juga salah satu direktur di sana, Profesor Jason Potts, bilang ke Cointelegraph kalau semuanya masih “belum pasti” alias belum final.
“Diskusinya masih jalan, bro,” kata Potts. “Belum ada keputusan resmi.”
Kenapa bisa sampai ada isu tutup? Ternyata, RMIT Blockchain Hub sejak dibuka di 2017 kurang menghasilkan riset berkualitas atau proyek konsultasi yang cukup buat mengamankan dana. Lebih parah lagi, gaya kerja di sana gak cocok sama “prosedur standar universitas.”
Menurut sumber anonim, Potts dan co-founder lainnya, Profesor Chris Berg, sering menyebut Hub ini sebagai “eksperimen.” Mereka ingin membangun model sekolah bisnis baru yang lebih “nyambung ke industri” daripada fokus cuma buat nulis jurnal akademis keren. Tapi, sayangnya, eksperimen ini gak menghasilkan reputasi yang bisa dijual balik ke mahasiswa atau sponsor industri.
Ironisnya, diskusi soal penutupan ini muncul pas banget di momen Bitcoin lagi gas pol. Harga Bitcoin naik 45%, hampir tembus Rp 1,5 miliar gara-gara Presiden AS terpilih, Donald Trump, bikin janji manis soal regulasi kripto yang lebih ramah. Tapi, di sini, riset blockchain malah terancam mati.
“Kita disuruh jalan cepat sesuai ritme industri, tapi waktu akademis nggak pernah bisa ngejar,” keluh seorang sumber.
Keputusan akhir bakal ada di tangan Profesor Colin Picker, Wakil Rektor Bisnis RMIT. Sementara itu, Potts lagi kerja keras buat cari solusi pendanaan agar Hub bisa terus hidup. Tapi kalau lihat tantangannya, masa depan Blockchain Hub ini tetap abu-abu.
Di saat dunia mulai melihat kripto sebagai masa depan ekonomi, langkah mundur seperti ini bisa bikin Australia kehilangan momen emasnya. Apalagi di AS, Trump udah janji menjadikan negaranya “ibu kota kripto dunia,” yang bakal memengaruhi regulasi global. Kalau Australia gak gerak cepat, bisa-bisa negara ini malah ketinggalan jauh.
RMIT Blockchain Hub adalah contoh pahit kalau inovasi dan birokrasi sering nggak cocok. Tapi kalau inovasi kayak gini mati muda, siapa yang bakal bikin gebrakan baru di bidang teknologi? Kita lihat aja gimana akhir cerita drama blockchain di RMIT ini.