Dulu, kripto dianggap aman karena nama samaran di alamat blockchain bikin semua transaksi jadi anonim. Tapi di era AI dan analitik canggih, apakah cara ini masih relevan? Para ahli bilang: nope, udah waktunya naik level!
Sejak Bitcoin booming tahun 2008, privasi pengguna bergantung pada anonimnya alamat kripto. Tapi sayangnya, privasi ini bisa jebol hanya dengan satu peretasan di bursa terpusat. Ingat kasus Liquid di Jepang? Mereka diretas pada 2021, lalu diambil alih oleh FTX, dan akhirnya tumbang di 2022. Dampaknya? Data pengguna bisa jadi incaran hacker.
Leona Hioki, arsitek sistem INTMAX, menegaskan bahwa nama samaran nggak cukup kuat buat melindungi identitas. Analitik blockchain seperti Chainalysis dan Crystal udah terlalu jago buat bongkar identitas on-chain. Bahkan, teknologi ini bisa jadi alat penjahat buat doxxing. Serem banget, kan?
Alex Page dari Nillion menyoroti sisi lain: AI butuh data terus-menerus buat personalisasi layanan. Masalahnya, data itu sering bocor! Contohnya Gmail—katanya nggak baca email pengguna, tapi kok iklan sesuai isi email kita muncul terus?
Page percaya solusi ada di teknologi komputasi multipihak (MPC), di mana data tetap rahasia, bahkan dalam kolaborasi. Dia juga menyebut platform perpesanan di Nillion yang nggak butuh server pusat seperti Telegram atau Signal.
Kritik umum soal privasi blockchain adalah potensi dipakai penjahat buat lari dari tanggung jawab. Tapi Hioki optimis: protokol desentralisasi seperti INTMAX bisa cegah ini dengan analisa risiko buat setiap transaksi.
Yang menarik, INTMAX punya mekanisme buat bikin jaringan nggak menarik bagi peretas. Dengan threshold tinggi buat blokir dana, pengguna biasa nggak bakal kena dampaknya.
Page menambahkan, walau teknologi ini nggak sempurna, privasi blockchain bukan berarti mempermudah kejahatan. Malah, ini adalah langkah maju buat memberi developer ruang eksplorasi lebih luas tanpa takut data bocor.
Kesimpulan:
Privasi di dunia blockchain butuh upgrade serius. Nama samaran udah nggak cukup di tengah ancaman AI dan peretasan. Teknologi baru seperti MPC dan bukti tanpa pengetahuan bisa jadi kunci keamanan masa depan. Jadi, siap adaptasi atau tetap main aman?